Showing posts with label Uluhiyah. Show all posts
Showing posts with label Uluhiyah. Show all posts

Friday, 28 December 2012

> Makna Tauhid Uluhiyah (Ibadah)



MAKNA TAUHID ULUHIYAH DAN TAUHID ADALAH INTI DAKWAH PARA RASUL 

Uluhiyah adalah Ibadah.
Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari'atkan seperti do'a, nadzar, korban, raja' (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu'." [An-Nahl: 36]

"Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." [Al-Anbiya': 25]

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib, dan lain-lain:

"Artinya: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya." [Al-A'raf: 59, 65, 73, 85].

"Artinya: Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, 'Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya'." [Al-Ankabut: 16]

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam :

"Artinya: Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama'." [Az-Zumar : 11]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri bersabda:

"Artinya: Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Kewajiban awal bagi setiap mukallaf adalah bersaksi 'laa ilaaha illallah' (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), serta mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya: Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disem-bah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.." [Muhammad: 19]

Dan kewajiban pertama bagi orang yang ingin masuk Islam adalah mengikrarkan dua (2) kalimah syahadat.

Jadi jelaslah bahwa tauhid uluhiyah adalah maksud dari dakwah para rasul. Disebut demikian, karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh namaNya, "Allah", yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah).

Juga disebut "tauhid ibadah", karena ubudiyah adalah sifat 'abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepadanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Ketahuilah, keperluan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikiaskan, tetapi dari sebahagian segi mirip dengan keperluan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbezaan dasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan rohnya, ia tidak boleh baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selainNya. Ia tidak boleh tenang di dunia kecuali dengan mengingatiNya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yang lain, dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia diperlukan setiap saat dan setiap waktu, di mana pun ia berada maka Dia selalu bersamanya."

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan tiang tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bebaslah lawannya, yaitu syirik. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. [An-Nisa': 48, 116]

"Artinya:  ..Seandainya mereka mempersekutukan Alah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An'am: 88]

"Artinya: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." [Az-Zumar: 65]

Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak ...". [An-Nisa': 36]

"Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan kamu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.." [Al-Isra': 23].

"Artinya: Katakanlah, 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu dari Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan kamu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak..'" [Al-An'am: 151]

Sumber: Al-Manhaj

Saturday, 17 December 2011

> Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah


Tauhid Rububiyah

Rububiyah berasal dari perkataan rabb. Kalimah ini mempunyai beberapa pengertian seperti pemimpin, pemilik, penguasa dan pemelihara. Namun pengertian rububiyah tidak mencakupi semua yang di atas, dan sifat yang sempurna hanyalah milik Allah s.w.t. Rububiyah ialah Tuhan yang mengatur segala sesuatu. Maka tauhid rububiyah berkisar mengenai cara-cara seorang hamba mengesakan Allah sebagai tuhan yang satu dalam konteks Tuhan yang menguruskan keperluan-keperluannya.

Tauhid Rububiyah bermaksud Allah ialah Tuhan pengatur segala sesuatu, Dia pemiliknya, Dia pencipta aturannya dan pemberi rezekinya. Sesungguhnya Dia yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi manfaat, yang mendatangkan hukum mudarat dan Dia menerima doa terutama dalam kesukaran. Semua perkara adalah bagi-Nya, ditangan-Nya terletak seluruh kebaikan, Dia berkuasa atas apa sahaja yang Dia kehendaki dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal ini, termasuklah qada’ dan qadar seseorang. Semua hamba-Nya berhajat kepada Allah sahaja.

Allah berfirman
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”
(QS 35:15)

Namun tauhid ini sahaja tidak cukup untuk menjamin seseorang hamba bahawa dia ialah seorang Muslim, tetapi perlu disusuli dengan tauhid uluhiyah iaitu mengesakan Allah dalam ketuhanan-Nya, kerana orang musyrik juga mempercayai Allah dalam tauhid rububiyah, namun tidak mengabdikan diri kepada-Nya.

Allah berfirman
“Tanyakanlah: siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Atau siapakah yang berkuasa sanggup menciptakan pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa?”
(QS 10:31)

Dan firman Allah
“Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka? Nescaya mereka menjawab: Allah”
(QS 43:87)

Allah berfirman lagi
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya? Tentu mereka akan menjawab: Allah”
(QS 29:63)

Ketiga-tiga ayat diatas merupakan antara ayat-ayat yang menunjukkan bahawa orang musyrik mengakui kewujudan Allah, namun menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
---

Tauhid Uluhiyah

Uluhiyah berasal dari perkataan ilah yang bermaksud Tuhan yang patut disembah. Maka dari itu terbitlah pengertian bahawa tauhid uluhiyah ialah meng-Esakan Allah sebagai Tuhan yang satu dalam konteks ikhlas beribadah kepada-Nya.

Tauhid uluhiyah adalah peng-Esaan Allah dalam ketuhanan. Ketauhidan ini dibina atas dasar ikhlas kerana Allah semata-mata, bersama rasa cinta, takut, mengharap, tawakal, gemar dan hormat secara menyeluruh hanya kepada Allah. Tauhid uluhiyah itu mengesakan Allah dalam ketuhanan, kerana dasar aqidahnya dibangun atas keikhlasan bertuhan. Dan dalam mendapatkan keikhlasan itu perlu pula kepada cinta yang amat sangat kepada Rabbul Izzah Allah Maha Esa.

Allah berfirman:
“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”
(QS 1:4)

Dan Allah berfirman:
“Jika mereka berpaling dari keimanan maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal, sedang Dia adalah Tuhan pemilik Arasy yang agung”
(QS 9:129)

Sampai kepada firman Allah:
“Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup kekal yang tiada mati dan bertasbihlah memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya”
(QS 25:58)

Tauhid uluhiyah juga dipanggil tauhid ubudiyah kerana ubudiyah berasal dari perkataan abd yang bermaksud hamba. Oleh kerana ilah bermaksud tuhan yang patut disembah, maka yang paling sesuai menyembah-Nya pastilah hamba-Nya sendiri. Tauhid ini juga digelar tauhid iradah atau tauhid kehendak, kerana setiap hamba itu berkehendak kepada beribadah terhadap tuhan.

Sifat ‘berkehendak kepada tuhan’ ini merupakan sifat yang memang semula jadi wujud dalam diri manusia, dan Maha Bijaksana Allah apabila Dia menurunkan nabi-nabi dan rasul-rasul untuk menunjukkan manusia cara yang betul untuk beribadah. Pendek kata, tauhid ini dibina atas rasa ikhlas beramal semata-mata kerana Allah.

Allah berfirman:
“...maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”
(QS 39:2)

Dan Allah berfirman:
“...katakanlah: Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, adakah mampu berhala-berhala kamu menghilangkan mudarat itu? Atau jika Allah mahu menurunkan rahmat-Nya kepadaku, adakah dapat berhala kamu menahan turunnya rahmat-Nya?...”
(QS 39:38)

Sampai kepada firman-Nya:
“Katakanlah: Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah hai orang-orang yang tidak berpengetahuan? Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu dan kepada nabi-nabi sebelum kamu, jika kamu menyekutukan Allah, nescaya hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk golongan yang merugi. Kerana itu maka hendaklah Allah sahaja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”
(QS 39:64-66)

Sumber: Wikipedia