Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Sunday, 12 October 2014

> MENGENAL ISLAM


Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Islam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.

Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga (3) tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.

TINGKATAN ISLAM
Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada (5) lima :
1). Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa "Laa Ilaaha Ilallaah" (Tiada sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.
2). Mendirikan shalat.
3). Mengeluarkan zakat.
4). Shiyam pada bulan Ramadhan.
5). Haji ke Baitullah Al-Haram.

1). Dalil Syahadat.
Firman Allah Ta'ala.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan (Juga menyatakan demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [Al-Imraan/3 : 18]

"Laa Ilaaha Ilallaah"' artinya : Tiada sesembahan yang haq selain Allah.

Syahadat ini mengandung dua unsur : menolak dan menetapkan. "Laa Ilaaha", adalah menolak segala sembahan selain Allah. "Illallaah" adalah menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata-mata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaan-Nya.

Tafsiran syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ﴿٢٦﴾إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ﴿٢٧﴾وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : 'Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya Dia akan menunjuki'. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid)".[az-Zukhruf /43: 26-28]

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Katakanlah (Muhammad) : 'Hai ahli kitab ! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu ; hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka :'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerahkan diri kepada Allah)". [Ali 'Imran/3: 64]

Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Firman Allah Ta'ala.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman". [at-Taubah/9: 128]

Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti : Mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.

2). Dalil Shalat dan Zakat serta tafsiran Tauhid.
Firman Allah Ta'ala.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan Zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus". [al-Bayyinah 98: 5]

3). Dalil Shiyam
Firman Allah Ta'ala.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa". [al-Baqarah/2 : 183]

4). Dalil Haji.
Firman Allah Ta'ala.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

"Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha tidak memerlukan semsesta alam". [Al 'Imran/3 : 97)]

TINGKATAN IMAN
Iman itu lebih dari tujuh puluh (70) cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat "Laa Ilaaha Ilallaah", sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu dari cabang Iman.

Rukun Iman ada enam, yaitu :
1). Iman kepada Allah.
2). Iman kepada para Malaikat-Nya.
3). Iman kepada Kitab-kitab-Nya.
4). Iman kepada para Rasul-Nya.
5). Iman kepada hari Akhirat, dan
6). Iman kepada Qadar, yang baik dan yang buruk.[1] 

Dalil keenam rukun ini, firman Allah Ta'ala.

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

"Berbakti (dari Iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi..." [al-Baqarah/2: 177]

Dan firman Allah Ta'ala.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

"Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar". [al-Qomar/54 : 49]

TINGKATAN IHSAN.
Ihsan, rukunnya hanya (1) satu, yaitu :

اَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَاَنَّكَ تَرَاهٌ، فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ

"Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu".[2] 

Dalilnya, firman Allah Ta'ala.

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan". [an-Nahl/16: 128]

Dan firman Allah Ta'ala.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ﴿٢١٧﴾ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ ﴿٢١٨﴾ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ﴿٢١٩﴾ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [asy-Syu'araa /26: 217-220]

Serta firman-Nya.

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

"Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur'an yang kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya". [Yunus/10 : 61]

Adapun dalilnya dari Sunnah, ialah hadits Jibril [3] yang masyhur, yang diriwayatkan dari 'Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu.

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

" Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : 'Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam', maka beliau menjawab :'Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana'. Lelaki itu pun berkata : 'Benarlah engkau'. Kata Umar :'Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : 'Beritahulah aku tenatng Iman'. Beliau menjawab :'Yaitu : Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk'. Ia pun berkata : 'Benarlah engkau'. Kemudian ia berkata : 'Beritahullah aku tentang Ihsan'. Beliau menjawab : Yaitu : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu'. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : 'Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya'. Akhirnya ia berkata :'Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu'. Beliau menjawab : Yaitu : 'Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi'. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : 'Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian". [4]

_______
Footnote
[1]. Qadar : takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu : Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
[2]. Pengertian Ihsan tersebut adalah penggalan dari hadits Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'Anhu, sebagaimana akan disebutkan
[3]. Disebut hadits jibril, karena jibril-lah yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang, Islam, Iman dan masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum muslimin tentang masalah-masaalah agama.
[4]. Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1.

Sumber: Al Manhaj 

Tuesday, 5 February 2013

> Mediafire Download Link



Ceramah Online - Mediafire download link..
ceramahonline@gmail.com, a MediaFire user, shared the following file with you.

Folder name: 10 Ayat Al-Baqarah
Website link: http://www.mediafire.com/folder/v9iup5i2jiyh5 (group of files)

Folder name: Al-Ma'athurat
Website link: http://www.mediafire.com/folder/jk6l71u5a1zl7 (group of files)

Folder name: Al-Quran (Landscape)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/oderthptem651 (group of files)

Folder name: Al-Quran (Madina)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/2cacoobezai7n (group of files)

Folder name: Al-Quran 30 Juz (Bacaan)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/4phys4r16y6va (group of files)

Folder name: Al-Quran Tajweed (Warna)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/xkj1ah5k0vdr1 (group of files)

Folder name: Al-Quran Terjemahan (114 Surah)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/r2fblxddf4bzb (group of files)

Folder name: Al-Quran Terjemahan (Indonesia)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/8fccad31wiwc6 (group of files)

Folder name: Al-Quran Terjemahan (Melayu)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/ui6xbt91xddd8 (group of files)

Folder name: Al-Quran Terjemahan (Surah Terpilih)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/n7c3jnn3dwi8c (group of files)

Folder name: Buku Iqra' 1-6
Website link: http://www.mediafire.com/folder/4s4pbgdodnup8 (group of files)

Folder name: Doa-doa Rasulullah
Website link: http://www.mediafire.com/folder/26fzluj4qnjp4 (group of files)

Folder name: E-Book (Islam)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/ga5uceampi2r1 (group of files)

Folder name: Himpunan Doa dari Al-Quran
Website link: http://www.mediafire.com/folder/5f9hbo09d88m3 (group of files)

Folder name: Juz Amma (Bacaan)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/f2uvlrxp558nb (group of files)

Folder name: Kelebihan 4 Kalimah
Website link: http://www.mediafire.com/folder/wg52kbpzpvlcj (group of files)

Folder name: Kelebihan Selawat Nabi
Website link: http://www.mediafire.com/folder/kfah2beb5lwf2 (group of files)

Folder name: Risalah Ramadhan (AAM)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/qeazxy2rtcwfh (group of files)

Folder name: Syaamil Quran Per Kata
Website link: http://www.mediafire.com/folder/ng1qj3r8iae86 (group of files)

Folder name: Syamil Quran - djvu
Website link: http://www.mediafire.com/folder/7u975sbw5bxb9 (group of files)

Folder name: Wirid Selepas Solat
Website link: http://www.mediafire.com/folder/cs8cl88izucl0 (group of files)

Folder name: Wirid Selepas Solat (2013)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/y08v3wl24dyax (group of files)

Folder name: Yaa'sin (Bacaan)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/23makhit64gzd (group of files)

Folder name: Yaa'sin Terjemahan (Melayu)
Website link: http://www.mediafire.com/folder/b8b46m4rnb39c (group of files)

Folder name: Zikir Harian
Website link: http://www.mediafire.com/folder/2f0lh4iysmhov (group of files)

Tuesday, 10 July 2012

> Contoh Perbuatan Syirik Yang DiLarang


CONTOH-CONTOH PERBUATAN-PERBUATAN SYIRIK YANG BANYAK TERSEBAR DI MASYARAKAT[9]

1- Mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta'ala, seperti berdoa (memohon) kepada orang-orang shaleh yang telah mati, meminta pengampunan dosa, menghilangkan kesulitan (hidup), atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan, seperti keturunan dan kesembuhan penyakit, kepada orang-orang shaleh tersebut. Juga seperti mendekatkan diri kepada mereka dengan sembelihan qurban, bernazar, thawaf, shalat dan sujud…Ini semua adalah perbuatan syirik, karena Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allâh, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allâh)". [al-An’âm/6:162-163]

2- Mendatangi para dukun, tukang sihir, peramal (paranormal) dan sebagainya, serta membenarkan ucapan mereka. Ini termasuk perbuatan kufur (mendustakan) agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, berdasarkan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya:

"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam" [10]

Allâh Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kekafiran para dukun, peramal dan tukang sihir tersebut dalam firman-Nya yang artinya:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), maka janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allâh. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat. Padahal sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allâh) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui" [al-Baqarah/2:102]

Hal ini dikarenakan para dukun, peramal, dan tukang sihir tersebut mengaku-ngaku mengetahui urusan gaib, padahal ini merupakan kekhususan bagi Allâh Subhanahu wa Ta'ala.

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan". [an-Naml/27:65]

Selain itu, mereka selalu bekerjasama dengan para jin dan setan dalam menjalankan praktek sihir dan perdukunan. Padahal para jin dan setan tersebut tidak mau membantu mereka dalam praktek tersebut sampai mereka melakukan perbuatan syirik dan kafir kepada Allâh Subhanahu wa Ta'ala, misalnya mempersembahkan hewan kurban untuk para jin dan setan tersebut, menghinakan al-Qur’ân dengan berbagai macam cara, atau cara-cara lainnya [11]. Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
"Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan". [al-Jin/72:6]

3- Berlebihan dan melampaui batas dalam mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang melarang hal ini dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Janganlah kalian berlebihan dan melampaui batas dalam memujiku seperti orang-orang Nashrani berlebihan dan melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku adalah hamba (Allâh), maka katakanlah: hamba Allâh dan rasul-Nya". [12]

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang tidak mungkin ikut memiliki sebagian dari sifat-sifat khusus yang dimiliki Allâh Azza wa Jalla, seperti mengetahui ilmu gaib, memberikan manfaat atau mudharat bagi manusia, mengatur alam semesta, dan lain-lain. Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan seandainya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku akan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". [al-A’râf/7:188]

Di antara Bentuk Pengagungan Yang Berlebihan Dan Melampaui Batas Kepada Rasulullâh Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah sebagai berikut:

- Meyakini bahwa beliau mengetahui perkara yang gaib dan bahwa dunia diciptakan karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

- Memohon pengampunan dosa dan masuk surga kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena semua perkara ini adalah khusus milik Allâh Subhanahu wa Ta'ala dan tidak ada seorang makhluk pun yang ikut serta memilikinya.

- Melakukan safar (perjalanan jauh) dengan tujuan menziarahi kuburan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang melarang perbuatan ini dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidak boleh melakukan perjalanan (dengan tujuan ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha". [13]

Semua hadits yang menyebutkan keutamaan melakukan perjalanan untuk mengunjungi kuburan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hadits yang lemah dan tidak benar penisbatannya kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana yang ditegaskan oleh sejumlah imam ahli hadits.

Adapun melakukan perjalanan untuk melakukan shalat di Masjid Nabawi maka ini adalah perkara yang dianjurkan dalam Islam berdasarkan hadits yang shahih.[14]

- Meyakini bahwa keutamaan Masjid Nabawi disebabkan adanya kuburan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini jelas merupakan kesalahan yang sangat fatal, karena Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutkan keutamaan shalat di Masjid Nabawi sebelum beliau wafat.

4- Berlebihan dan melampaui batas dalam mengagungkan kuburan orang-orang shaleh yang terwujudkan dalam berbagai bentuk, di antaranya:

- Memasukkan kuburan ke dalam masjid dan meyakini adanya keberkahan dengan masuknya kuburan tersebut.

Ini bertentangan dengan petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allâh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani, (kerena) mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)" [15]

Dalam hadits lain, Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian selalu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shaleh (di antara) mereka sebagai masjid (tempat ibadah), maka janganlah kalian (wahai kaum Muslimin) menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari perrbuatan tersebut" [16]

- Membangun (meninggikan) kuburan dan mengapur (mengecat)nya.
Dalam hadits yang shahih, Jâbir bin 'Abdillâh Radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mengapur (mengecat) kuburan, duduk di atasnya, dan membangun di atasnya".[17]

Perbuatan-perbuatan ini dilarang karena merupakan sarana yang membawa kepada perbuatan syirik (menyekutukan Allâh Subhanahu wa Ta'ala dengan orang-orang shaleh tersebut).

5- Termasuk perbuatan yang merusak tauhid dan akidah seorang Muslim adalah menggantungkan jimat (azimat) -baik berupa benang, manik-manik atau benda lainnya- pada leher, tangan, atau tempat-tempat lainnya, dengan meyakini jimat tersebut sebagai penangkal bahaya dan pengundang kebaikan.

Perbuatan ini dilarang keras oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau yang artinya: "Barangsiapa yang menggantungkan jimat (azimat), sungguh dia telah berbuat syirik". [18]

6- Demikian juga perbuatan tathayyur, yaitu menjadikan sesuatu sebagai sebab kesialan atau keberhasilan suatu urusan, padahal Allâh Subhanahu wa Ta'ala tidak menjadikannya sebagai sebab yang berpengaruh.

Perbuatan ini juga dilarang keras oleh Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau yang artinya: "(Melakukan) ath-thiyarah adalah kesyirikan". [19]

7- Demikian juga perbuatan bersumpah dengan nama selain Allâh Azza wa Jalla. Rasulullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Barangsiapa bersumpah dengan (nama) selain Allâh, sungguh dia telah berbuat syirik".[20]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
________
Footnote
[9]. Pembahasan ini diringkas dari kitab Mukhâlafât fit Tauhîd, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ar-Rayyis, dengan sedikit tambahan dan penyesuaian
[10]. HR. Ahmad (2/429) dan al-Hâkim (1/49). Lihat ash-Shahîhah no. 3387
[11]. Hum Laisu Bisyai hlm. 4
[12]. HR. al-Bukhâri no. 3261
[13]. HR. al-Bukhâri no. 1132 dan Muslim no. 1397
[14]. HR. al-Bukhâri no. 1133 dan Muslim no. 1394
[15]. HR. al-Bukhâri no. 1265 dan Muslim no. 529
[16]. HR. Muslim no. 532
[17]. HR. Muslim (no. 970).
[18]. HR. Ahmad (4/156). Lihat ash-Shahîhah no. 492
[19]. HR. Abu Dâwud no. 3910, at-Tirmidzi no. 1614 dan Ibnu Mâjah no. 3538. Lihat ash-Shahîhah no. 429
[20]. HR. Abu Dâwud (no. 3251) dan at-Tirmidzi (no. 1535). Lihat ash-Shahîhah no. 2042

Sumber: almanhaj.co.id

> Kemaskini: Koleksi eBook (pdf)



Kemaskini (updates); 
Koleksi eBook format (versi PDF) dari arkib 'Mediafire.com' 
> Klik di sini
Semoga bermanfaat. 
Wallahu a'lam

Sunday, 14 August 2011

> Kekuatan Dzikir



Dzikir itu dahsyat. Semakin saya paham tentang cara kerja pikiran, semakin banyak hikmah yang bisa ditemukan dari berbagai ibadah ritual dalam agama Islam. Salah satunya ialah hikmah dari dzikir. Dzikir adalah salah satu pelatihan yang hebat dalam melatih kualitas pribadi umat Islam baik secara ukhrawi maupun duniawi. Kita akan mendapatkan hasil ganda dari dzikir yang kita lakukan.

Untuk memahami makna dzikir secara ukhrawi mungkin kita perlu bertanya kepada ustadz Arifin Ilham. Saat ini saya akan membahas bagaimana hikmah dzikir terhadap kehidupan dunia kita. Ternyata dzikir memberikan makna luar biasa kepada kehidupan kita. Selain hati kita menjadi lebih bening, dzikir akan melatih semangat kita menjadi lebih dahsyat untuk meraih prestasi.

Seperti yang saya bahas dalam artikel Tumaninah Dalam Shalat, ketenangan dalam melakukan sesuatu akan memberikan kemampuan kita mengendalikan pikiran kita. Jika kita melakukan dzikir dengan khusyu’ maka ini akan memberikan latihan yang sangat luar biasa dalam pengendalian pikiran kita.

Bukan hanya itu, makna yang terkandung dari kalimat-kalimat dzikir akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar kita sehingga bisa membentuk akhlaq mulia dalam kehidupan kita. Jika kita melakukan dzikir dengan cara yang benar, tenang, dan sambil menghayati setiap makna dari semua yang kita ucapkan, maka ini adalah suatu bentuk amalan yang sangat luar biasa.

Dengan dzikir bisa membuat kita menjadi Muslim yang lebih shalih. Dengan dzikir bisa membuat kita menjadi Muslim yang kuat, jenius, dan memiliki motivasi tinggi dalam melakukan berbagai hal dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak akan pernah malas lagi dalam melakukan berbagai ibadah baik ibadah ritual dan ibadah muamalah.

Sungguh, dzikir adalah suatu metode yang sangat hebat. Tidak ada metode yang dihasilkan oleh para ahli pengembangan diri melebihi dzikir. Namun sayang, sekali lagi, kita sering menyia-nyiakan rahmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Masih banyak orang yang belum melakukan dzikir dengan benar, bukti nyatanya ialah bagaimana kualitas umat Islam saat ini.

Adalah benar kata para mujahid, bahwa kemunduran umat Islam karena umatnya yang meninggalkan ajaran agama Islam. Bukan agama Islam yang menjadi masalah, tetapi karena justru kita yang meninggalkan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita belum melakukan ibadah yang melibat ruh kita. Marilah kita kembali ke dalam ajaran Islam secara kaaffah, salah satunya dengan rajin dzikir.

Sumber:
http://www.motivasi-islami.com/kekuatan-dzikir/

> Syukur dalam Islam

Bersyukur dengan nikmat dan anugerah Allah dari apa yang kita miliki sekarang

UMAT Islam masa kini perlu memperbanyakkan rasa syukur kepada Allah SWT kerana ia adalah tanda keteguhan iman di atas segala nikmat kurniaan-Nya yang tidak terkira banyaknya.

Lebih-lebih lagi sebagai rakyat Malaysia mereka amat bertuah kerana Allah mentakdirkan berada atau memiliki sebuah negara yang aman dan mengurniakan pula rezeki dan nikmat yang melimpah ruah.

Nikmat keamanan yang diterima terus-menerus dan tidak putus-putus ini sepatutnya menambahkan lagi rasa terima kasih atau kesyukuran kepada Allah dan memperkuatkan lagi ketaatan serta pengabdian kepada-Nya.

Umat Islam di negara ini sepatutnya bermuhasabah diri seiring dengan usia yang semakin bertambah dan hampir ke penghujungnya. Saidina Umar al-Khattab pernah meluahkan ungkapan yang terkenal, iaitu: "Perhitungkanlah (hisablah) dirimu sebelum anda dihitung (dihisab) oleh Allah (pada hari akhirat)."

Bagaimanakah mengukur tahap rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat pemberiannya yang tidak terhitung banyaknya selama ini?

Setiap umat Islam perlu berasa cemas dan takut kerana selepas banyak menikmati rezeki pemberian Allah, mereka tidak diiktiraf oleh Allah sebagai orang yang bersyukur kepada-Nya. Ini kerana di dalam al-Quran, Allah menyebut dalam beberapa ayat yang mana ramai manusia yang tidak berterima kasih kepada Allah atau sedikit sekali orang yang bersyukur kepada-Nya.

Orang yang tidak tahu atau tidak mahu bersyukur, maka azab Allah bakal diterimanya di akhirat. Sebaliknya, orang yang tahu bersyukur dan menghargai nikmat pemberian Allah, mereka beruntung kerana Allah berkenan menambahkan lagi pemberiannya, sebagai firman-Nya bermaksud: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
(QS. Ibrahim: 7)

Nikmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia khususnya kepada Muslim boleh dibahagikan kepada dua, iaitu:

1) Nikmat untuk kelangsungan hidup di dunia seperti makanan, minuman pandangan, kekayaan, keamanan, kesihatan, umur dan nikmat berkasih sayang; dan

2) Nikmat yang paling mahal dan tinggi nilainya nikmat iman dan Islam kerana ia bukan setakat untuk di dunia tetapi berterusan sampai ke hari akhirat.

Umat Islam patut bersyukur kerana dikurniakan nikmat iman dan Islam di samping nikmat lain yang tidak terkira banyaknya. Marilah bersungguh-sungguh mempertahankan nikmat iman dan Islam sampai ke akhir hayat.

Soalnya, adakah umat Islam sebenarnya bersyukur dengan kedua-dua bentuk nikmat yang dikurniakan Allah? Allah berfirman, bahawa amat sedikit manusia yang bersyukur.

Allah menghuraikan mengenai banyaknya nikmat kurniaan Allah kepada manusia yang pasti tidak mampu dihitung. Firman Allah yang bermaksud: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nahl: 18)

Allah meminta supaya manusia yang banyak menerima nikmat dan kurniaan Allah supaya bersyukur, seperti firman-Nya yang bermaksud: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."
(QS. An-Nahl:78)

Dalam ayat lain, Allah berfirman yang bermaksud: "Dan supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan) dan supaya kamu membesarkan Allah kerana mendapat petunjuk-Nya, dan supaya kamu bersyukur."
(QS. al-Baqarah: 185).

Banyak lagi ayat al-Quran yang diakhiri dengan kalimah yang bermakna, "agar kamu bersyukur." Beberapa firman Allah (sekadar beberapa ayat) dalam al-Quran menyatakan bahawa kebanyakan manusia tidak bersyukur atau sedikit sekali yang berterima kasih kepada Allah, seperti firman-Nya bermaksud: 'Dan sedikit sekali daripada hamba-Ku yang tahu berterima kasih (bersyukur)."
(QS. Sabda': 13)

Dalam soal jawab Iblis dengan Allah, Iblis berkata, "Kemudian aku datang (memperdayakan) mereka dari muka, belakang, kanan dan kiri mereka. Dan tidaklah Engkau (Tuhan) akan mendapati kebanyakan daripada mereka tahu berterima kasih."
(QS. al-A'raaf: 17).

Seterusnya Allah berfirman yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah sentiasa melimpahkan kurnia-Nya kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."
(QS. al-Baqarah: 243)

Sewajarnya umat Islam menaruh perasaan bimbang dengan penjelasan Allah seperti dalam beberapa ayat berkenaan, iaitu apakah mereka daripada kalangan orang yang bersyukur. Semoga kisah berikut memberi pengajaran atau iktibar kepada kita.

Diceritakan bahawa ada seorang pemuda pada zaman Saidina Umar al-Khattab yang sering berdoa di sisi Baitullah yang maksudnya: "Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit." Doa pemuda ini didengar oleh Saidina Umar ketika beliau (Umar) sedang bertawaf di Kaabah. Umar berasa hairan, iaitu kenapa pemuda berkenaan memohon doa sedemikian rupa.

Selepas selesai melakukan tawaf, Saidina Umar memanggil pemuda berkenaan lalu bertanya: "Kenapakah engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tiada permintaan lain yang boleh engkau mohon kepada Allah?"

Pemuda berkenaan menjawab: "Ya Amirul Mukminin! Aku membaca doa berkenaan kerana aku (berasa) takut dengan penjelasan Allah seperti firman-Nya dalam surah al-A'raaf ayat 10 yang bermaksud: "Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekelian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur." Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, iaitu (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah, jelas pemuda berkenaan.

Mendengar jawapan itu, Umar al-Khattab menepuk kepalanya sambil berkata kepada dirinya sendiri: "Wahai Umar, alangkah jahilnya engkau, orang ramai lebih alim daripadamu." Memanglah teramat sedikit yang tahu dan mahu bersyukur dan semoga kita termasuk dalam golongan yang sedikit berkenaan (yang bersyukur).

Bagaimanakah memastikan diri daripada kalangan orang yang bersyukur dengan segala nikmat yang diterima daripada Allah?

Menurut Imam al-Junaid, "Syukur ialah seseorang yang tidak menggunakan nikmat Allah untuk melakukan maksiat kepada-Nya". Ertinya, tanda bersyukur ialah menggunakan segala nikmat atau rezeki kurniaan Allah untuk melakukan ketaatan kepada-Nya dan memanfaatkannya ke arah kebajikan - bukan menyalurkannya ke kancah maksiat atau kejahatan.

Ulama bernama Ahsin bin Atha'ullah pula membahagikan syukur kepada tiga, iaitu:

- Syukur dengan lidah, iaitu dengan cara menyebut nikmat kurniaan Allah seperti firman Allah: "Dan nikmat Tuhanmu hendaklah engkau menyebutkannya sebagai menzahirkan kesyukuran."
(QS. adh-Dhuha: 11);

- Syukur dengan anggota badan, iaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah, iaitu dengan menggunakan anggota badan ke atas perkara yang diredhai Allah; dan

- Syukur dengan hati, iaitu mengiktiraf bahawa Allah sajalah pemberi segala nikmat di mana segala nikmat atau rezeki yang diperoleh oleh setiap manusia (hamba Allah) datangnya daripada Allah, sesuai dengan penjelasan Allah menerusi firman-Nya bermaksud: "Apa jua nikmat yang kamu peroleh, maka ia datangnya daripada Allah."
(QS. an-Nahl: 53)

Ibnu Atha'ullah Askandari pula berkata: "Sesiapa yang tidak mensyukuri nikmat, maka dia membuka ruang seluas-luasnya untuk nikmat berkenaan hilang daripadanya. Sedangkan sesiapa bersyukur, maka (bermakna) dia mengukuhkan lagi ikatan kekalnya nikmat berkenaan kepada dirinya. Dan sesiapa yang tidak mempedulikan nikmat Allah yang diperolehinya, maka dia akan menghargainya apabila nikmat itu (telah) hilang daripadanya."

Ketika Siti Aisyah bertanya Rasulullah SAW (suaminya), mengapa baginda begitu kuat dan tekun beribadah (solat) sampai kakinya bengkak, sedangkan baginda seorang nabi yang telah diampun dosanya dahulu dan akan datang? Nabi Muhammad menjawab, "Tidak bolehkah aku menjadi orang yang bersyukur kepada Allah."

Ini bermakna mentaati perintah dan menjauhi apa jua larangan Allah adalah tanda syukur kepada-Nya. Insaflah bahawa apa jua yang Allah suruh kerjakan dan tinggalkan segala larangan-Nya adalah semata-mata untuk keuntungan manusia sendiri.

Allah tidak mengambil sebarang faedah daripada apa jua yang diperintah dan dilarang-Nya. Allah tidak sekali-kali rugi jika semua manusia sepakat untuk tidak mentaati-Nya dan tidak pula untung sekelumit pun sekiranya semua manusia beriman dan patuh kepada-Nya. Bukankah Allah mewujudkan manusia di muka bumi ini untuk diuji. Allah hendak melihat siapakah antara mereka yang paling baik perbuatannya?

Ini selaras dengan penegasan Allah menerusi firman-Nya yang bermaksud: "Sesungguhnya Kami (Allah) menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah antara mereka yang terbaik perbuatannya."
(QS. al-Kahfi:7)

Sumber: Oleh Wan Aminurrashid Wan Abd Hamid
Wan Aminurrashid Wan Abd Hamid ialah Pensyarah Pusat Islam, Universiti Putra Malaysia (UPM), Serdang
Berita Harian, 19 Mei 2000
http://www.webspawner.com/users/rencana/